![]() |
| Sutradara Film The Sun, The Hurricane Andri Cung, sedang memaparkan isi film kepada penonton di fakultas Filsafat,Universitas Parahyangan (Unpar),Sabtu (14/11/2015) |
Bandung- Film The Sun, The Moon and The Hurricane karya Andri Cung ditayangkan di lantai 2 Gedung Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan (Unpar), Sabtu (14/11/2015). Film tersebut mengisahkan tentang kaum LGBT atau homoseksual, namun dari sisi yang berbeda.
Sutradara film
tersebut Andri Cung, menceritakan film tersebut mengenai kaum LGBT dari sisi
yang berbeda. Dari judul, kata Andri, ia mengambil judul The Sun, The Moon and
The Hurricane untuk melambangkan setiap fase kehidupan manusia,dan inilah fase
yang juga dialami oleh kaum LGBT.
Dalam filmnya
tersebut, jelas Andi, ia membentuk tokoh Rain yang diperankan oleh William
Tjokro, Kris yang diperankan oleh Natalius Chendana,Will yang diperankan oleh
Cornelius Sunny, dan Susan yang diperankan oleh Gesata Stella.
Andi memulai
cerita film diawali ketika tokoh Kris jatuh cinta pada tokoh Rain di masa SMA,
setelah itu tiba-tiba Kris menghilang. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu
kembali, tapi dalam posisi Kris telah menikahi Susan dan Rain pernah menjalin
hubungan pria lain, yaitu Will saat bertugas di Bangkok.
Alur kisah
cinta segitiga, antara pasangan homoseksual dengan satu wanita, merupakan sisi
berbeda yang ingin diperlihatkan Andi kepada penontonnya.
“Dalam film
ini saya bukan ingin memaksa penonton, tapi ingin menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi. Kalau film yang lain hanya permukaannya saja, sebenarnya
kaum LGBT itu tidak selamanya digambarkan dengan lelucon atau komedi, kalau
kita sisakan waktu sebentar saja untuk mempelajari lebih dalam, kita akan
merasakan hal yang lebih, ” ujar Andi dalam sesi diskusi.
Penjelasan
lain juga disampaikan oleh salah satu pemain, Gesata Stella yang berperan
sebagai Susan. Gesata mengatakan bermain dalam film tersebut membuat ia candu.
Dalam film, Andri menuntut Gesata untuk berada di posisi Susan seutuhnya, bukan
menjadi dirinya sendiri. Hal itulah yang kemudian membuat Gesata merasa
tertantang untuk menjadi tokoh istri yang bersuamikan seorang gay.
“Di sana saya
dituntut untuk memakai sepatunya Susan, bukan lagi saya. Menurut saya, Andi
bisa memberikan cerita yang menggambarkan cinta dalam bentuk universal.
Meskipun saya merasa menjadi perempuan naif, tapi itu tantangan buat saya, dan
saya jadi candu,” jelasnya sembari tersenyum.
Andi
menambahkan, insprasi awal ia membuat film ini karena merasa bosan melihat film
LGBT di Indonesia yang selalu memperlihatkan duniawi, seperti kekayaan, pesta
dan lainnya. Beranjak dari itulah Andi mulai membongkar catatannya di zaman SMA,
dan membuka obrolan dengan teman-temannya yang termasuk dalam kaum LGBT
tersebut.
“Film ini
berawal dari kebosanan saya melihat karakter yang ditampilkan di film Indonesia
lainnya, kemudian dilanjut dengan oborolan saya dan teman-teman, terus saya
buka catatan di masa SMA. Hal yang jelas, saya memperlihatkan sisi yang berbeda
yaitu tentang kaum LGBT itu sendiri lewat tokoh Kris misalnya, ia mengalami
pergolakkan batin dengan apa yang dilakukannya dan diinginkannya,” pungkas
Andi.

0 Comment for "Film The Sun, The Moon and The Hurricane, kisahkan kaum LGBT dari Sisi yang Berbeda"